Leonardo Melukis “4-2-Fantasia” Di Milan

13 May, 2017

Musim 2009/10 silam, sebuah awal yang salah menjadi berkah. Dari situ, lahirlah satu skema permainan baru di AC Milan. System of play revolusioner racikan Leonardo itu dikenal dengan sebutan ‘4-2-Fantasia’.

leonardo-milan

Platform-nya adalah 4-2-3-1. Leonardo memberikan sentuhan kreativitas dan membuatnya jadi sebuah skema ofensif berbalut fantasi. Sebuah sepakbola yang atraktif. Pemilik nama lengkap Leonardo Nascimento de Araujo itu menghadirkannya di tengah-tengah dunia Calcio yang defensif.

Dia memakai empat pemain di belakang, dua penyeimbang di tengah, dan pemain-pemain ofensif yang kreatif serta ber-skill tinggi di posisi ‘3’ untuk mendukung ujung tombak serangan. Hasilnya terbilang memuaskan.

Musim itu, Milan berada dalam masa transisi yang sulit usai ditinggal sejumlah pilar penting. Kaka baru dilego ke Real Madrid, kapten Paolo Maldini pensiun, sedangkan pelatih Carlo Ancelotti pindah ke Chelsea.

Leonardo, mantan gelandang serang Milan asal Brasil yang menjabat direktur teknik Rossoneri sejak 2008, kemudian ditunjuk menggantikan Ancelotti. Sebagai pelatih muda minim pengalaman, tak heran jika dia diragukan.

Leonardo mewarisi skuat berisikan sejumlah pemain top, seperti Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Ronaldinho, Filippo Inzaghi, Marco Borriello hingga Alexandre Pato. Untuk memperkuat lini depan, Thiago Silva didatangkan dari Fluminense. Untuk menambah daya gedor, Klaas-Jan Huntelar direkrut dari Real Madrid.

Namun, mengawali sesuatu tak pernah mudah. Start buruk pun tak terhindarkan.

Membuka musim dengan kemenangan sulit 2-1 di kandang Siena, Milan besutan Leonardo kemudian hancur 0-4 dalam derby melawan Inter Milan pada giornata 2. Isu pemecatan langsung mengalir deras, sampai akhirnya perlahan menghilang.

Titik baliknya adalah laga kandang melawan AS Roma pada giornata 8 setelah jeda internasional.

San Siro, 18 Oktober 2009. Milan menjamu Roma besutan Claudio Ranieri. Hanya meraup satu poin dalam tiga laga terakhirnya, atmosfer di Milan cukup panas. Situasinya semakin tidak nyaman setelah, akibat kesalahan Thiago Silva, Roma bisa mencuri keunggulan lewat Jeremy Menez cuma tiga menit sejak kick-off babak pertama. Milan tertinggal 0-1 hingga jeda, dan pada titik itu mereka berada tepat di atas zona merah.

Itulah periode terberat Milan musim itu, tapi Rossoneri bangkit. Setelah jeda, Leonardo mengganti Ignazio Abate dengan Filippo Inzaghi. Leonardo mengubah skema awal 4-4-2 menjadi 4-2-3-1. Waktu itu, lahirlah sistem yang baru: empat di belakang, dua di tengah, dan limpahan ‘fantasi’ di lini serang. Alexandre Pato di kanan, Clarence Seedorf gelandang serang, Ronaldinho di kiri, dan Inzaghi striker.

Milan akhirnya berbalik menang 2-1 lewat penalti Ronaldinho dan finishing Pato.

About the author

Related Posts