Beberapa Legenda Yang Bersinar Dimasa Nya

03 Jul, 2017

Musim 2001/02 adalah salah satu musim di mana Serie A dihuni sederet bek tangguh dan penyerang yang mematikan. Musim itu, secara mengejutkan, Dario Hubner menyabet gelar Capocannoniere sebagai pencetak gol terbanyak bersama David Trezeguet (Juventus) dengan torehan gol masing-masing 24.

Hasil gambar untuk del piero

Hubner, memiliki nama julukan Tatanka (sejenis Bison), melakukannya bersama klub sekelas Piacenza dan di usia 35.

Tak jarang, seseorang butuh waktu sangat lama untuk mencapai potensi terbaiknya. Namun dalam diri manusia tak ada yang namanya deadline untuk itu, kecuali kematian.

Itulah yang terjadi pada Hubner, dalam kariernya yang penuh liku sebagai pesepakbola profesional selama periode 1967-2005.

Dari periode tersebut, musim 2001/02 bisa dibilang sebagai titik puncak bagi Hubner. Bersaing dengan penyerang-penyerang berkelas semacam Andriy Shevchenko, Christian Vieri, Alessandro Del Piero, Vincenzo Montella hingga Hernan Crespo, yang mampu mengacak-acak barisan pertahanan tangguh di ranah Serie A, Hubner finis sebagai pencetak gol terbanyak. Hanya Trezeguet yang mampu menyamainya.

Hubner lahir di Muggia, Italia pada 20 April 1967. Seiring berjalannya waktu, dia terbentuk menjadi seorang striker oportunis dengan penyelesaian akhir akurat, baik dengan kaki kiri, kanan, kepala, maupun dari titik penalti.

Hubner mengawali karier pada musim 1987/88 di Pievigina, di Interregionale (Serie D), mencetak 10 gol. Dia kemudian memperkuat Pergocrema (1988-89), Fano (1989-92) di Serie C, dan Cesena (1992-97) di Serie B. Hubner menjadi top scorer Serie C musim 1991/92 dengan 14 gol dan top scorer Serie B musim 1995/96 dengan 22 gol.

Menyusul terdegradasinya Cesena ke Serie C pada 1997, Hubner pindah ke Brescia yang baru promosi ke Serie A. Dia melakoni debut di kasta tertinggi Italia di usia 30-an.

Debut Hubner di Serie A adalah laga tandang melawan Inter Milan pada giornata pembuka musim 1997/98. Waktu itu, hampir tak ada yang peduli tentang Hubner dan Brescia.

Waktu itu, perhatian terfokus pada satu orang, yaitu Ronaldo yang baru memecahkan rekor transfer untuk gabung Inter dari Barcelona. Semua ingin melihat pemain terbaik dunia asal Brasil itu menginjakkan kaki di lapangan Serie A untuk pertama kalinya.

Inter mengharapkan kemenangan meyakinkan atas tim promosi Brescia demi mengirim pesan kepada para rival bahwa mereka serius ingin meraih Scudetto untuk pertama kalinya setelah puasa sembilan tahun. Semua tidak berjalan sesuai rencana.

Serie A bukan La Liga, dan Brescia bukan Compostela. Ronaldo langsung merasakannya. Dia dijaga ketat, dan sang pendatang baru tak membiarkannya begitu saja masuk ke dalam kotak penalti mereka.

About the author

Related Posts